Dibalik Penangkapan Hercules Dan Gerindra

Dibalik Penangkapan Hercules Dan GerindraPenangkapan Hercules dan 49 anak buahnya menuai reaksi keras dari Partai Gerindra. Sebagaimana diketahui, Hercules merupakan ketua ormas Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu yang menyatakan dukungan terhadap partainya Prabowo tersebut. Dalam wawancara dengan TVOne, Fadli Zon, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra terkesan membela Hercules dengan melemparkan satu opini seolah-olah penangkapan tokoh pemuda asal Timor Leste itu ditunggangi oleh kepentingan politik. Sedangkan Ahmad Muzani, Sekjen “Partai Gerindra” menyatakan bahwa pihaknya akan menyediakan pengacara untuk membela Hercules.

Sikap yang ditunjukkan oleh para elite Gerindra tersebut bisa jadi malah membuahkan blunder politik mengingat masyarakat luas terlanjur memiliki persepsi negatif terhadap kelompok Hercules. Ucapan Fadli Zon yang menyatakan bahwa saat ini Hercules sudah berubah berdasarkan keaktifan yang bersangkutan dalam berbagai kegiatan sosial, justru mengesankan bahwa para elite partai tersebut menggunakan segala cara demi membela Hercules. Bahkan lebih jauh lagi Fadli Zon mengatakan, “lebih baik mantan preman daripada mantan ustad.” Fadli yang mantan politisi Partai Bulan Bintang itu juga terkesan menuding aparat kepolisian melakukan konspirasi untuk menjebloskan Hercules ke penjara.”Sangat aneh bila aparat kepolisian menggelar apel di kompleks perumahan, bukan di kantor polisi. Kita mendukung sepenuhnya kinerja aparat dalam meberantas premanisme. Siapapun yang bersalah harus diproses berdasar hukum yang berlaku. Tapi kita tidak ingin bila tindakan aparat ini hanya sekadar subordinasi dari kepentingan politik tertentu”, demikian kurang lebih ucapan Fadli Zon.

Dalam kaca mata awam, dapat disimpulkan bahwa manakala para pentolan preman ramai-ramai membikin ormas yang bercorak kedaerahan atau kepemudaan, hal itu menandakan adanya tren formalisasi premanisme. Toh meskipun sudah berkedok ormas kepemudaan, tetap saja aktivitas mereka senantiasa menciptakan ancaman serius bagi keamanan dan ketertiban masyarakat. Ormas yang didirikan para pentolan preman itu tak lebih dari sekadar sarana buat melegalkan bisnis otot mereka semacam jasa debt collector, pengamanan, maupun parkir. Alhasil, bila sebagian dari ‘ormas kepemudaan’ tersebut aktif dalam sejumlah kegiatan sosial maka itu tak lebih dari tipu daya untuk mengelabuhi masyarakat. Dengan kata lain untuk mengaburkan identitas kepremanannya. Adakah pantas bersedekah dari uang hasil merampok?

Di sisi lain, organisasi-organisasi preman tersebut kerapkali berlindung di bawah ketiak pejabat publik atau militer yang didudukkan dalam struktur organisasi itu sebagai pelindung atau penasehat. Terkait hal ini, bisa jadi posisi Hercules di Partai Gerindra ibarat duri dalam daging. Lewat sikap ‘ajaib’ para elite partai yang membabi buta membela Hercules, rakyat jadi mengetahui bahwa ternyata mereka yang mengaku intelektual dengan balutan jas rapi serta berlatar belakang pendidikan akademis cukup tinggi, nyatanya hobi ‘berselingkuh’ dengan pentolan preman. Sekilas, antara elite partai dengan preman memang berada dalam dua dimensi yang jauh bertolak belakang. Yang satu identik dengan otak, sedangkan yang lain identik dengan otot. Bila antara kalangan politisi dan preman terjalin hubungan harmonis, jangan-jangan memang keduanya hanya beda ‘baju’ saja tapi ‘dalamnya’ sama. Jangan-jangan para politisi kita tak ubahnya preman berbaju intelektual. Yang lebih dikhawatirkan, justru ketika para politisi tersebut telah dibeli dan dikendalikan oleh kekuatan preman. Apa jadinya negeri ini? Ingat, Indonesia punya sejarah soal preman jadi raja. Siapa sih yang tidak kenal Ken Arok? Bekas brandal yang sukses menjadi raja Singosari lewat serangkaian pembantaian berdarah.

Ah, alangkah baiknya bila para petinggi Gerindra tidak usah campur tangan dalam kasus Hercules ini. Serahkanlah pada proses hukum yang berlaku. Semestinya Gerindra justru berterima kasih kepada aparat kepolisian yang telah mencabut duri dalam daging partai tersebut. Betapa elegannya jika dengan kasus di atas, para petinggi Gerindra mengambil langkah tegas dengan ‘menceraikan’ Hercules dari keanggotaan partai. Hubungan antara Hercules dan Gerindra jelas bukan simbiosis mutualisme. Sebaliknya, keberadaan Hercules di Gerindra tak lebih dari parasit yang memberikan kenyamanan bagi sang pentolan preman, tapi di lain pihak berpotensi besar merusak reputasi seorang Prabowo Subianto.

Memang posisi Hercules di Gerindra bukan apa-apa dibanding dengan posisi Anas di Demokrat, atau LHI di PKS. Namun bila Gerindra sembrono dalam menyikapi kasus Hercules ini dengan berlagak memasang badan, sangat mungkin itu bakal menjadi celah yang dimanfaatkan oleh lawan-lawan politiknya untuk menjegal elektabilitas partai maupun Prabowo sebagai pihak yang pro terhadap premanisme. Sebab, di tahun politik ini apa saja bisa dijadikan senjata ampuh buat menghantam lawan. Amat naïf jika para elite Gerindra lebih memilih mengorbankan simpati masyarakat luas demi mempertahankan dukungan segelintir preman.

Terakhir kita mengharapkan ketegasan aparat dalam membabat habis premanisme hingga ke akar-akarnya. Bila perlu, hidupkan kembali ‘petrus’ demi membersihkan bumi Indonesia dari para begundal. Langkah tegas perlu diambil mengingat eksistensi preman tak ubahnya teroris yang menebar ancaman terhadap kenyamanan kehidupan bermasyarakat. Tidak syak lagi, premanisme merupakan sinonim dari terorisme bermotif perut. Maka dari itu, tak boleh ada toleransi bagi segala jenis premanisme untuk tumbuh berkembang di tanah air. Baik itu yang berkedok ormas kepemudaan, kedaerahan, atau bahkan keagamaan.

Comments are closed.